Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei 24th, 2011

Pegas merupakan elemen yang banyak digunakan baik dalam permesinan, mekanik maupun kelistrikan. Pada berbagai konstruksi mesin, pegas harus mampu memberikan gaya, melunakkan tumbukan menyerap dan menyimpan energi agar dapat mengurangi getaran.  Kerja pegas disebabkan oleh bentuk khusus yang disesuaikan dengan pemilihan bahan serta ukuran yang sesuai dengan perencanaan. Pegas merupakan elemen yang elastis. Dimana pada waktu pembebanan pegas dapat terdeformasi dengan menyimpan energi, tetapi bila beban dilepaskan, pegas akan kembali pada kondisi sebelum terbebani. Jadi pada dasarnya pegas dibuat dengan tujuan untuk memberikan aksi reaksi terhadap beban yang terjadi pada suatu konstruksi.

Secara Umum, Pegas dapat berfungsi sebagai:

1.1  Penyimpan Energi

1.2  Pelunak Tumbukan atau Kejutan

1.3  Pemegang atau penjepit

1.4  Pendistribusian gaya

1.5  Elemen ayun

1.6  Pengukur

Pegas dapat diklasifikasikan menjadi 2 kelompok:

1. Berdasarkan jenis beban  yang dapat diterima

  • Pegas Tekan
  • Pegas Tarik
  • Pegas Puntir
  1. Berdasarkan Bentuknya
  • Pegas Heliks
  • Pegas Volut
  • Pegas Daun
  • Pegas Piring
  • Pegas Cincin
  • Pegas batang puntir
  • Pegas Spiral
  • Pegas Pelat
  • Pegas Kawat

Disamping pegas logam yang tersebut diatas, terdapat juga  pencegah dan peredam getaran  seperti Pegas Karet dan Pegas Udara.

Untuk perhitungan pegas biasanya ditentukan oleh cara kerja beban yang diberikan. Oleh karena itu, berbagai cara pemegasan diatur perlakuannya  menurut cara kerja yang menonjol seperti, pegas tekan, pegas tarik dan pegas puntir.

Pada Konstruksi mesin, umumya pemakaian yang menonjol adalah jenis pegas heliks dari baja, karena pembuatan, pengukuran serta pemasangannya tergolong murah. Dan juga dapat dipakai untuk gaya penekan maupun gaya penarik.

Disamping itu juga sebagai dasar untuk pemilihan cara pemegasan, diperlukan sudut  pandang khusus sesuai dengan latar depan yang ada seperti, kebutuhan tempat, berat dan umurnya. Dalam hal lain kemampuan sifat elastis, besarnya pengaruh massa, tambahan gesekan dalam, perbandingan khusus antara gaya kerja dan pemegasan dan yang lainnnya juga diperlukan.

Pada dasarnya pemilihan pegas disesuaikan dengan operasi yang akan digunakan dan harus dibuat memenuhi kondisi yang ada.

Read Full Post »

Dikutip dari http://www.pii.or.id

Habibie : Indonesia harus Kuasai Dua Teknologi Utama

20110131104722bjPakar teknologi dirgantara yang juga mantan Presiden Prof BJ Habibie menegaskan, Indonesia harus menguasai dua teknologi utama yakni maritim dan dirgantara, apabila ingin menjadi bangsa yang besar.

Saat rapat dengar pendapat umum dengan Komisi I DPR di Jakarta, Senin, Habibie menuturkan bahwa gagasan itu berasal dari Presiden RI Soekarno yang saat itu menyatakan bahwa bangsa Indonesia harus menjadi bangsa besar dengan menguasai teknologi pembuatan kapal laut serta mampu menguasai, mengembangkan dan mandiri.

“Mandiri waktu itu belum dipakai, karena beliau (Soekarno) memakai kata berdiri, yaitu produk teknologi dirgantara,” ujar Habibie.

Selanjutnya Habibie mengatakan bahwa komitmennya membangun industri dirgantara di Indonesia, bukan karena dipanggil Presiden Soeharto atau ingin menjadi menteri.

“Sebenarnya Pak Harto pun hanya melanjutkan penuturan dan keinginan Presiden Soekarno itu,” ujarnya seraya menambahkan bahwa dirinya benar-benar ingin membangun dan mengembangkan industri pesawat di Indonesia, sementara posisi presiden yang pernah disandangnya itu tidak penting.

Dalam RDPU yang dipimpin Ketua Komisi I Mahfudz Siddiq itu, Habibie mendefinisikan makna industri strategis sebagai industri yang bisa membangun bangsa dan industri itu bukan hanya dibangun dan dimanfaatkan untuk pertahanan saja.

Karenanya ia merasa prihatin ketika visi pembangunan teknologi yang dijalankan bangsa ini yang dicari bukanlah kemandirian, tapi yang dikejar hanya keuntungan sesaat. Menurut dia, kalau yang dicari hanya keuntungan sesaat saja, maka sama artinya dengan menjalankan “skenario VOC”.

“Industri strategis terhenti perkembangannya karena tidak didukung dengan bantuan anggaran pemerintah. Karena dicari keuntungan dalam US dolar, kalau begitu ya bikin saja dagang. bikin saja pabrik perwakilan mereka (asing),” ujarnya.

Terkait dengan hal itu, Habibie mengartikan globalisasi itu sebagai pakaian baru untuk kolonialisasi. “Saudara, saya orang tua, tapi saya tidak buta. Saya harus katakan kepada anda, anda harus bangkit,” ujarnya.

Hal lain yang juga memprihatinkannya adalah terbengkalainya Puspitek. Tempat itu, katanya, tidak lagi digunakan untuk laboratium uji teknik, tapi malah ada ide untuk dijadikan lapangan golf.

“Saya menantang, kalau berani dibuat lapangan golf, maka saya akan berdiri. Kita harus terus belajar. Kita tidak hanya belajar dari kebaikan tapi juga dari kesalahan, bagaimana agar tidak terjadi kesalahan lagi,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Habibie menyatakan bersyukur diundang DPR sebagai nara sumber untuk memberikan masukan dalam penyusunan RUU usul inisiatif DPR tentang Pengembangan dan Pemanfaatan Industri Strategis untuk Pertahanan.

“Saya malu kalau datang ke sini karena pernah memimpin bangsa Indonesia. Tapi kalau saya diundang ke sini, sebagai orang tua yang dikasihi oleh semua anak bangsa, maka saya bersyukur,” ujarnya. [sumber : antara.co.id]

Read Full Post »