Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November 16th, 2011

PEMANFAATAN ENERGI DAN

MASA DEPAN NUSANTARA

 

 

Oleh : Sri Hardjoko Wirjomartono[1]

 

 

1.       PENDAHULUAN

 

Energi merupakan salah satu elemen peradaban[2] manusia. Peradaban Romawi yang jaya pada masanya didukung oleh energi manusia berupa budak yang mendukung kemakmuran dan kekuatannya.Pada peradaban Renaissance kayu merupakan sumber energi dan oleh karenanya hutan di Eropa hampir habis untuk memenuhi kebutuhan energi kelompok bangsa di Eropa pada periode masa itu.

Revolusi industri yang terjadi di Eropa dimulai dengan pemakaian energi dengan sumber energi fosil yang tak terbarukan, dimulai dari batubara berlanjut ke minyak bumi, dan gas alam dan terjadilah industrialisasi yang dianggap sukses sampai saat ini.

Setiap peradaban memiliki ciri budaya[3] tersendiri. Peradaban Romawi dicirikan dengan perbudakan, sedangkan abad pertengahan Eropa ditengarai dengan pertanian yang disertai pada akhirnya dengan kolonisasi. Industrialisasi memperkuat kolonisasi karena disertai keunggulan teknologi yang mereka miliki.

Industrialisasi yang membawa paradigma baru budaya manusia, membawa berkah positif yaitu berkembangnya jumlah manusia disertai kenaikan umur rata-rata yang mendekati dua kali umur rata-rata manusia pada periode peradaban sebelumnya. Namun Industrialisasi ini juga membawa petaka yang berupa rusaknya ekologi dunia yang kita huni bersama. Pemakaian material dunia yang melewati batas kemampuan dunia dalam menyediakan material ini, khususnya bahan energi fosil, membawa rusaknya ekosistem dunia, yang apa bila tidak segera ditangani dengan sungguh-sungguh dengan tindakan nyata yang bersinergi dan penuh kedisiplinan akan meniadakan segala-galanya, termasuk berkah positif disebutkan dimuka.

Setelah habis atau menipisnya ketersediaan kayu hutan di Eropa, maka dimulailah pemakaian batu bara sebagai sumber energi penggantinya. Seiring dengan teknologi yang ada pengambilan atau penambangan batu-bara terjadi dalam jumlah terbatas dan semakin sulit untuk menambangnya. Manusia selalu berusaha untuk memperbaiki hidupnya, untuk maksud itu dikembangkanlah teknologi penambangan batu-bara seperti pemakaian pompa air, dan penggeraknya, mesin uap. Semenjak itu perkembangan teknologi semakin pesat karena daya geraknya dilaksanakan dengan pemanfaatan batu-bara, disusul dengan minyak bumi dan gas bumi. Meskipun peradaban terakhir ini, industrialisasi yang dimulai dengan revolusi industri di atas, tidak disertai kolonisasi secara phisik namun kolonisasi yang identik dengan penjajahan ini masih terus berlangsung dengan baju berbeda, yaitu berupa penjajahan ekonomi. Sebagai akibatnya negara-negara bekas jajahan (phisik) hanya mampu menyediakan bahan mentah karena ketidakmampuan/keterbatasan teknologi untuk mengolah bahan mentah tersebut menjadi material (produk) siap pakai atau bernilai tambah untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia.

 

2.       BUDAYA DAN KONSUMERISME

 

Budaya menyangkut beberapa elemen kehidupan baik secara individual maupun secara kelompok. Nilai-nilai, kepercayaan, adat istiadat atau tradisi, simbol-simbol, norma aturan (kelompok), dan kelembagaan secara bersama membentuk budaya yang berbeda, baik besar (significant) maupun kecil. Karena banyaknya elemen yang berinteraksi dan membentuk budaya suatu kelompok masyarakat, suku-bangsa, maka sulit untuk menarik kesimpulan atau pengenalan terhadap budaya masing-masing kelompok. Budaya juga berubah dan/atau berkembang mengikuti proses sosial yang terbentuk (oleh manusia) yang terlihat seakan-akan alamiah.

Konsumerisme, mengikuti definisi seorang ekonom kerajaan Inggris, adalah suatu orientasi budaya dimana “kepemilikan dan pemakaian berbagai produk dan pelayanan yang terus meningkat” yang merupakan aspirasi perilaku untuk mencapai kebahagiaan, status sosial, dan kesuksesan secara nasional (status simbol kesuksesan). Dengan demikian konsumerisme merasuk ke dalam budaya masyarakat yang kadang-kadang dianggap sebagai kenyataan hidup sehari-hari. Oleh karena itu konsumerisme menjadi elemen budaya – bahasa dan simbol, norma dan tradisi, nilai-nilai dan institusi, pergaulan masyarakat seluruh dunia, dan mentranformasikan konsumerisme ke seluruh dunia. Televisi, telepon genggam, komputer dan sarana-sarana serupa sungguh menjadi pendorong konsumerisme secara mendunia dimana berbagai merek, slogan, simbol membrondong ke benak masyarakat dan membuat beratus-ratus bahkan beribu-ribu produk secara tidak sadar merasuk ke budaya masyarakat.

Kesejahteraan hidup sejatinya ditentukan keadaan yang saling berkaitan, yaitu kehidupan yang bermakna, kehidupan ekonomis yang terjamin, dan kesehatan. Pada umumnya apabila kehidupan ekonomis meninggi lagi tidak menjamin kenaikan kebahagiaan secara proporsional. Suatu barang atau pelayanan yang semula merupakan kemewahan menjadi kebutuhan hidup biasa. Dengan demikian budaya konsumerisme terbentuk, yang mula-mula pada orang perorang menjadi kelompok orang, dan kemudian menjadi budaya bangsa.

Konsumerisme yang berlebihan tidak menjamin kesejahteraan, efek samping yang merugikan dengan mudah terbentuk seperti tekanan kerja (work stress) yang membawa ke arah turunnya kesehatan dan resiko kematian. Pada saat ini kematian di dunia sekitar setengahnya karena penyakit berikut : kanker, serangan jantung dan sakit paru-paru, diabet, dan kecelakaan mobil/motor. Selain itu karena semua produk atau hasil industri yang kita konsumsi memerlukan material yang harus di ekstrasi dan/atau diambil dari bumi, maka efek konsumerisme yang berlebihan akan melampaui apa yang dapat disediakan oleh bumi. Contoh yang nyata adalah akan habisnya bahan bakar fosil, berkurangnya ketersediaan tanah (subur) pertanian baik secara luasan ataupun kesuburannya, berkurangnya berbagai jenis ikan laut akibat pengambilan yang berlebihan (over fishing), berkurangnya air baku untuk kehidupan yang semakin berkurang karena pencemaran maupun perubahan cuaca dan ditambah pertumbuhan penduduk dunia (over population). Budaya pemakaian bahan bakar fosil telah mengarah ke konsumsi berlebihan, sehingga mengemisi CO2 berlebihan. Akibatnya adalah terjadinya pemanasan global. Perubahan cuaca disebabkan oleh pemanasan global (global warming) yang meningkat lebih cepat dari seharusnya karena perbuatan manusia.

Untuk melihat masa depan manusia dilihat kemampuan dunia dalam menyediakan material kita lihat kondisi ketersediaan, pemakaian, atau kemampuan lainnya untuk tahun 1950 – 1998 dan prediksi pada periode sesudahnya seperti :

(…Selengkapnya Silahkan didownload)


[1]Prof. (Pen.) Dr. Ir. IPU Mantan Guru Besar FTI-ITB

[2] Peradaban = civilization

[3]Budaya = culture

Iklan

Read Full Post »